Manusia Tercerdas di Dunia

Siapakah manusia tercerdas di dunia ? Leonardo Da Vinci ? Stephen Hawking ? atau Albert Einstein ? Memang benar mereka adalah orang jenius yang telah memberikan pengaruh besar pada dunia akan tetapi gelar orang tercerdas di dunia lebih layak dinobatkan oleh William James Sidis.


Siapakah William James Sidis ? William James Sidis merupakan pria dengan IQ antara 250 - 300, wow itu kelewatan bodohnya atau pintarnya.
Kecerdasan William James Sidis terlihat ketika sejak masih kecil. Pria yang lahir pada tanggal 1 April 1898 di New York ini pada usia 8 bulan sudah bisa menggunakan sendok sendiri. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. pada umur 8 tahun Sidis dapat menguasai 8 bahasa (Inggris, Latin, Yunani, Perancis, jerman, Yahudi, Turki, dan Armenian). Pada usia ini juga Sidis menjadi langganan surat kabar Headline, dan menulis buku tentang anatomy dan astronomi.Pada umur 11 tahun Sidis menjadi mahasiswa termuda di Universitas Harvard, Harvard pun terpesona ketika Sidis baerceramah tentang jasad 4 dimensi dihadapan para profesor matematika.

Keberhasilan Sidis adalah keberhasilan sang ayah, Boris Sidis seorang psikolog berdarah Yahudi. Boris sendiri juga lulusan Universitas Harvard dan juga murid William James (yang namanya dijadikan Sidis. Boris memang menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Siapa sangka William James Sidis meninggal pada umur yang terhitung muda, yaitu 46 tahun sebuah saat dimana ilmuwan pada masa produktifnya. Anehnya Sidis hidup dalam keadaan kesendirian, terasing, bahkan sangat miskin. Kemudian orang - orang menilai kehidupan Sidis tak sebahagia yang dibayangkan. Popularitas dan kehebatan dalam matematikanya membuat dia sangat tersiksa. Beberapa tahun sebelum ia meninggal ia sempat mengatakan kepada pers bahwa ia sangat benci matematika yang telah melambungkan namanya. Dia tidak pernah memiliki pacar ataupun istri. Gelar sarjananya tidak pernah selesai, ditinggal begitu saja. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan keluarganya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji seadanya, mengasingkan diri. Ia berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang sebenarnya adalah proyeksi sang ayah. Ia menyadarinya bahwa hidupnya adalah hasil pemolaan orang lain. Namun, kesadaran memang sering datang terlambat.

Mengharukan memang usaha Sidis. Ada keinginan kuat untuk lari dari pengaruh sang Ayah, untuk menjadi diri sendiri. Walau untuk itu Sidis tidak kuasa. Pers dan publik terlanjur menjadikan Sidis sebagai sebuah berita. Kemanapun Sidis bersembunyi, pers pasti bisa mencium. Sidis tidak bisa melepaskan pengaruh sang ayah begitu saja. Sudah terlanjur tertanam sebagai sebuah bom waktu, yang kemudian meledakkan dirinya sendiri.

Jadi, pengetahuan takkan bisa membeli persahabatan atau cinta.

0 komentar:

Posting Komentar